I’m Psychologist not Fortune Teller

Kuliah di jurusan psikologi repot, ribet, capek. Saya Psikolog bukan Paranormal/ Dukun atau sejenisnya.. Tiap ketemu orang minta ramal, ada juga yang minta “coba liat aku”, ada juga yang takut, ada juga yang bilang sok tau, tempat sampah (tempat curhat pagi, siang, malam) dan lain sebagainya. Semua itu terjadi setelah aku bilang aku kuliah jurusan psikologi. Pertanyaan-pertanyaan aneh pun muncul dari mulut mereka (aneh menurut versi saya). Ini bentuk percakapannya…

1. Saat setelah kenalan dengan temannya teman.

Tiwied: (sambil senyum) Tiwied.

Teman: (anggap aja namanya A). Jurusan apa?

Tiwied: Psikologi

Teman: Wah, anak psikologi? Aku ramalen po’o. (Aku ramalin dong).

Tiwied: dalam hati berkata, “emang aku mama loreng? Woii anak psikologi nih. Dikatain dukun”

2. Saat berkumpul dengan keluarga besar.

Budhe: Wied, liaten aku po’o aku wong’e koyok opo? (Wied, liaten aku, aku ini orangnya seperti apa)

Tiwied: Lha budhe, apanya yang dilihat? Itu udah punya mata, hidung, telinga, kaki, tangan, lengkap semua. Dalam hati,” ini budhe aneh aneh-aneh aja. Ngapain juga minta dilihat. Aku sih paham maksudnya untuk tau gimana kepribadiannya. Tapi aku kan ya nggak bisa langsung judgment. Budhe yang satu ini sepertinya mau menguji mata kuliah Psikologi Kepribadian.

3. Saat beli baterai di sebuah toko.

Penjual: Kuliah jurusan apa mbak?

Tiwied: Psikologi

Penjual: Waah.. jadi bisa tau, liat orang ya.

Tiwied: Dalam hati,” ya ialah.. tau orang. Aku juga jenis dari manusia. Punya mata jadi bisa tau kalau ada orang lagi lewat, mau nyebrang, atau liat orang lagi pacaran. Plis deh ya…

4. Ketemu teman lama

Teman: jangan dekat-dekat Tiwied, ntar bisa ketauan.

Tiwied: Dalam hati,” Lha? Salah apa gue woii.. baru juga ketemu eh malah jangan dekat-dekat. Lagian apanya yang ketauan? Emang aku bakal bocor apaan??

Dilain kesempatan saat ketemu teman lama.

Teman: Nggak enak ngomong sama anak psikologi. Ntar bisa ketau kalau bohong. Biasanya kamu liat mata kan.Jadi aku nggak mau liat matamu Wied.

Tiwied: Cuman bisa meringis. Dalam hati: Ampun deh… Susah ya.

5. Tempat sampah alias Tempat curhat

Teman 1: Wied mau curhat

Teman 2: Wied curhat ya

Teman 3: Wied jangan bilang sapa-sapa ya aku curhat cuman k kamu.

Teman 4: Mbak aku galau, mau curhat

Dan teman-teman lainnya…

Tiwied: Dalam hati: seneng sih banyak yang curhat berarti banyak yang percaya masalahnya diceritakan ke aku. Capek juga kalau banyak masalah numpuk di satu kepala. Sebel karena aku nggak dibayar alasannya aku kan temannya. Tau nggak bayaran psikolog perjamnya itu mahal. Sekali ketemu/ konsultasi mualai dari 200ribu. Haduuuh…

Mungkin dibelahan bumi lain juga mengalami hal-hal ini. Merepotkan? Memang. Tapi aku menyukai bidang ini. I Love Psikologi.🙂

3 thoughts on “I’m Psychologist not Fortune Teller

  1. Hahaha. Saya jg anak psikologi. Banyak teman2 saya yg mengeluh dengan keluhan yg sama. Biarin aja kita dibilang dukun. Tp, dukun ilmiah. Pnya penilaian berdasarkan studi kasus atau berinteraksi lgsg. Bkn yg bisanya cma ngmg. Ya ga?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s