Dinamika Skripsi

Tau-tau udah Desember, banyak teman yang sidang.
Tau-tau udah Januari, deadline pengumpulan nilai akhir
Tau-tau udah Februari, yudisium
Tau-tau udah Maret, wisuda.
Skripsiku udah sampe mana??

“Skripsi itu ibarat pacar. Keduanya butuh perhatian”

Tulisan awal Desember masih bertemakan skripsi. Kenapa? Karena urusan skripsiku masih belum kelar meskipun sudah selesai sidang. Emang masih kurang apa? Masih kurang buuuaaaanyaaak urusannya. Aku harap tulisan ini bisa menjadi inspirasi, motivasi bagi yang membaca, bagi pejuang skripsi. Aseek..

Semester 9. Yup yup saya mahasiswa semester 9 dan saya belum wisuda. Belum wisuda itu bukan dosa. Dosa itu kalau korupsi. Lagian aku juga molor 1 semester dan nggak berharap lebih.

Teman-teman angkatanku banyak yang sudah wisuda dan ya mereka yang sudah lulus menyandang S.Psi. Tapi tulisan kali ini bukan membahas tentang teman-teman yang sudah lulus. Kita mahasiswa semester 9 pejuang skripsi, mahasiswa yang berjuang dan bertobat memperbaiki kesalahan nilai-nilai kuliah C,D,E kami memiliki beragam kondisi mengapa kami telat wisuda. Bukan karena kita nggak bisa, tapi karena kita memilih jalan lain, kami punya pilihan. Oke Siip…

Cerita pertama berawal saat aku ke kampus untuk bimbingan dan ketemu temanku Firoh. Siapa itu Firoh? Kita teman dekat semenjak di tinggal di asrama. Mulai semester 2-6 kita satu kamar sampai akhirnya keluar dari asrama karena sudah angkatan tua hehehe. Aku kira keluar dari asrama bakal nggak sekamar lagi karena beragam kondisi yang ada. Tapi setelah diskusi, kita sekamar lagi. Sampai akhirnya aku keluar duluan dari kost karena selesai sidang dan memang disuruh pulang sama ortu. Firoh gimana nasibnya? Firoh masih di kost. Dia sedang berjuang menyelesaikan skripsinya. Firoh juga belum selesai skripsinya? Belum, bukan karena Firoh males tapi ada kondisi yang membuat dia harus menjadi mahasiswa semester 9 dan sidang ulang. Aku garis bawahi dan kasih warna merah, iya dia sidang ulang. Kenapa? Bukan karena Firoh nggak bisa mengerjakan skripsinya, Firoh itu masuk jajaran anak pinter di kelas dan rata-rata semua anak segan sama dia (mungkin karena dia tua, hahaha) penyebabnya sejauh ini karena seorang dosping yang nggak bisa mengerti Firoh. Ini bukan dalam rangka membela Firoh, tapi memang dosping yang satu ini terkenal “alot” (susah) kalau membimbing mahasiswa. Kasus sidang ulang bukan hanya bikin shock Firoh dan keluarganya tapi juga aku temannya. Gimana bisa sidang ulang. Lika-liku perjuangan skripsinya bukan hanya sidang ulang, tapi bermula dari tidak setujunya dosping dengan judul yang diajukan. Saat sempro (seminar proposal) dia habis-habisan dibantai dosping dan penguji selama 1,5 jam (rekor sempro lama), penguji menyarankan untuk sempro ulang. Dalam hati menjerit Sempro ulang!! Itu aku yang jadi peserta sempro jadi kaget. Tapi akhirnya nggak jadi. Keputusan akhirnya dia hanya harus ganti judul. Firoh putus asa? Jawabannya Iya dia putus asa tapi nggak lama. Setelah penguji keluar ruangan dia nangis di depan teman-teman yang melihat sempronya. Dia mampu bangkit dari keterpurukannya. Dia sedih? Pasti sedih, tapi dia berhasil bangkit dari kesedihannya dan memilih untuk berjuang lagi. Dia pun memilih untuk mengikuti kata penguji untuk ganti judul. Kasus Firoh bukan hanya terjadi padanya. Banyak mahasiswa yang dibimbing beliau masih belum selesai skripsinya. Memang kalau kasus anak bimbingan beliau yang lain aku nggak seberapa tau gimana ceritanya bisa molor. Tapi untuk kasus Firoh aku liat sendiri bagaimana Firoh berjuang menyelesaikan skripsinya tiap hari, secara kita sekamar. Kita saling memotivasi saat kita males. Dan sekarang bagaimana skripsi Firoh? Firoh sedang penelitian dan segera sidang.

Pelajaran Skripsi dari Firoh. Firoh ini mengajarkan aku bagaimana seseorang tidak mudah berputus asa. Aku mengganggapnya hebat. Dia hebat bisa bangkit dari kesedihannya karena harus dibantai penguji, ganti judul, dan menjalani sidang ulang.

“SKRIPSI ITU KERJA KERAS, BUKAN MALAS”

Cerita kedua datang dari teman (namanya “SF”) tapi bukan teman sekelas. Aku juga nggak seberapa dekat atau mengenalnya tapi yang aku tau dia juga belum wisuda dan masih berjuang mengerjakan skrispinya. Alasan tepatnya apa aku kurang tau. Aku hanya tau dia sekarang sudah punya 2 buku. Iya buku, dia seorang penulis buku. Bukunya juga sudah terbit di toko buku. Aaaaah pengen… Mungkin ini salah satu alasan kenapa dia belum selesai mengerjakan skripsi. Kata Firoh yang pernah tanya ke SF dia lebih senang menulis buku daripada skripsi, entah kenapa seperti itu. Apa itu salah? Nggak jawabku. Kenapa? Karena dia punya tujuan. Dalam tujuannya ada prioritas mungkin karena tujuannya itu dia memilih untuk menunda skripsinya dan memilih menulis buku daripada skripsi. Kenapa nggak diselesaikan dulu skripsinya terus nulis buku atau melakukan secara bersamaan? Jawaban yang tepat hanya pada “SF”. Kalau aku pada posisinya aku mungkin akan memilih melanjutkan menulis buku. Karena itu impianku, itu tujuanku. Setelah itu aku akan melakukan hal lainnya. Sekarang bagaimana skripsi “SF”? Mungkin sekarang dia sedang tour memasarkan bukunya dan selama tour dia mengerjakan skripsi. Hanya SF yang tau jawabannya.

Pelajaran Skripsi kedua dari SF. Dia mengajarkan aku bahwa kita itu punya pilihan. Dia memilih untuk mengerjakan proyek bukunya daripada skripsinya. Sekali lagi, itu bukan kesalahan tapi itu pilihan. Dia tidak malas dan bukan karena tidak bisa mengerjakan skripsinya tapi dia sedang memilih jalan lain. Buktinya dia bisa menerbitkan bukunya. Perlu kerja keras lho menulis sebuah buku. Jangankan buku, nulis di blog aja juga kok. Siapa sih orang yang hobi menulis nggak pengen punya buku?? Aku aja pengen. Aku ucapkan selamat untuknya karena berhasil menghasilkan sebuah karya.

“SKRIPSI ITU SEBUAH PILIHAN. Skripsi itu bukan tentang bisa atau tidak mengerjakannya. Tapi mau atau tidak mengerjakannya”

Cerita ketiga datang dari “IB”. IB ini temanku. Dia sekelas sama aku. “IB” juga punya cerita kenapa skripsinya tertunda. Setauku itu karena diaΒ  memperbaiki nilai-nilai mata kuliah dan waktu itu dia pernah bilang bakal molor. Aku lupa alasannya apa kenapa dia molor. Terus sekarang skripsi IB gimana? Dia sedang penelitian dan segera sidang. Dia yang sekarang ingin cepat lulus dan mengejar impian pergi ke luar negeri. Pengen keliling dunia belajar Psikologi. Kita sempat berbagi cerita mengenai impiannya. Dalam ceritanya terlihat dia menyesali kenapa dulu kuliahnya agak kacau. Tapi sekarang dia sedang berusaha membereskan mata kuliah dan berjuang menyelesaikan skripsinya. Dulu memang dia kacau kuliahnya tapi sekarang dia bangkit memperbaiki semuanya.

Pelajaran skripsi dari “IB”. Kalau kita niat kita pasti bisa. Belajar dari IB. Dia menurutku hebat. Kuliahnya di semester awal emang agak kacau tapi sekarang dia sudah berhasil sempro. Asal tau aja ya, perjuangan menuju sempro juga nggak gampang. Sempro itu bentuk awal kalau kita niat mengerjakan dan menyelesaikan skripsi. Dibandingkan teman-teman yang dari awal kuliahnya lempeng-lempeng aja tapi masih molor (hehe ini nyindir aku juga). Dia membuktikan bahwa kalau niat itu pasti bisa. Semangat untuk IB sukses untuk skripsinya dan semoga impiannya tercapai.

“Sebelum membuat Bab I harus study pendahuluan. Jawaban Anda salah. Sebelum membuat Bab I harus NIAT”

Cerita-cerita diatas adalah sebagian cerita mengapa seseorang menjadi tertunda skripsinya. Sekali lagi aku katakan bukan karena kita tidak bisa tapi karena kita punya alasan mengapa skripsi itu tertunda. Siapa sih mahasiswa yang pengen molor kuliahnya? Nggak ada. Bahkan anak yang males kuliah sekalipun dia akhirnya pengen cepet lulus.

Saranku untuk teman-teman pejuang skripsi (Saran ini juga berlaku untuk aku). Kita harus ingat apa tujuan kita. Seperti SF, kita punya prioritas. Kalau list prioritasmu adalah skripsi dan ingin cepat lulus kerjakan skripsimu sekarang. Ingat ya sekarang!! Jangan bilang besok karena sekali bilang besok, besok kita akan berkata lagi besok. Dan akhirnya skripsimu pun akan berlalu.

“Jangan biarkan waktumu berlalu begitu saja meninggalkan skripsi”

Jangan mudah putus asa seperti Firoh meski judul yang diajukan ke dosping di tolak berulang kali. Jangan membuat sebuah kegagalan menjadikanmu malas dan menghindari skripsimu. Aku tau kegagalan adalah hal yang menyakitkan. Kegagalan adalan sebuah realitas yang harus kita hadapi. Semua orang pasti mengalaminya. Kita harus bangun dan memperbaikinya.

“Skripsi itu bukan mimpi buruk yang akan berakhir jika kita bangun.
Skripsi itu kenyataan yang akan berakhir jika kita bangun dan mengerjakannya”

Niat. N I A T. Kalau kamu memang niat untuk menyelesaikan skripsimu dan ingin cepat lulus mulailah mengerjakannya. Aku tau ini bagian tersulit. Tapi kita pasti bisa. Seperti “IB”, akhirnya dia sedikit demi sedikit menyelesaikan kuliahnya itu karena dia niat. Selain IB ada contoh lain. Inget Ian yang di film 5 cm nggak? Tau kan yang pernah liat. Disitu Ian benar-benar niat dan berusaha untuk menyelesaikan kuliahnya. Aku nangis waktu bagian tentang Ian. Waktu Ian jatuh dari gunung dan dipanggil-panggil nggak ada respon. Aku mikir, Dia kan mau sidang kenapa harus mati. Tapi ternyata dia hanya pingsan. Akhirnya Ian pun bisa sidang dan lulus. Semua yang berawal dari niat baik akan berakhir dengan baik juga.

“Bagian tersulit skripsi itu bukan Bab I, II, III, IV, atau V. Tapi NIAT pelaku pembuatnya”

Kalau ingin cepat selesai skripsinya ya jangan males dong. Jangan cuma mimpi selesai ngerjain skripsi.

“Jangan membayangkan skripsimu selesai jika tidak mengerjakannya. Bangun dari mimpi dan mulai hadapi skripsimu”

Tiwied

πŸ™‚

One thought on “Dinamika Skripsi

  1. Honestly, aku mau nangis terharu dan sedih juga baca postingan kamu ini. Yeah, you know.. I’m doing my thesis and I’m stuck.😦😦😦

    Salam pejuang skripsi!
    Semoga semester depan lulus!

    Aamiin!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s