Perempuan Lintas Budaya

Postingan kali ini aku mau share tentang salah satu tugas paper semasa kuliah MK Psikologi Lintas Budaya. Materinya tentang Women Across Cultures (Perempuan Lintas Budaya). Paperku ini dapat nilai bagus lho 15/15 dibawahnya dosen menuliskan “good job! terus berkarya!” (keren kan? tepuk tangan dong.. hahahaha). Ini Paperku.. Selamat Membaca

***

Women Across Cultures (Perempuan Lintas Budaya)

Muncul banyak permasalahan yang cukup komplek karena jenis kelamin (sex), dan perempuan sering kali menjadi korban karena hal tersebut. Mulai dari masalah peran dikeluarga, pendidikan, pekerjaan dan lain-lain.

Permasalahan pertama yang dialami sebagian perempuan adalah ia merasa gelisah dan tidak percaya diri atas ketidakpuasan tubuh/ badan fisik yang dimilikinya. Hal ini disebabkan oleh peran media terutama media visual misalnya: TV dan majalah yang selalu menampilkan gambaran perempuan cantik. Perempuan cantik digambarkan memiliki tubuh/ badan kurus, kulit putih, rambut panjang dan lurus. Gambaran tersebut ditampilkan melalui artis-artis yang sering muncul pada iklan-iklan kosmetik misalnya, sabun, shampo, hand body (lotion), dan lain-lain. Hal ini mengakibatkan perempuan merasa gelisah ketika tidak memiliki tubuh/ badan kurus, kulit putih, rambut panjang, dan, lurus yang telah digambarkan oleh media. Bagi perempuan yang merasa dirinya tidak cantik mereka akan mengusahakan sebisa mungkin menjadi cantik seperti gambaran yang ada dimedia. Mereka akan membeli sejumlah alat-alat kosmetik atau kecantikan untuk memperbaiki bagian tubuh (fisik) yang menurut mereka kurang cantik, misalnya: jika merasa kulit mereka hitam mereka akan membeli pemutih untuk membuat kulit mereka putih, jika mereka merasa tubuhnya/ badan mereka gendut mereka membeli obat pelangsing atau alat-alat olahraga bahkan hingga melakukan diet keras atau tidak sehat untuk membuat badannya kurus atau ideal yang efek dari itu dia akan sakit.

Secara biologis perempuan melahirkan anak, berawal dari kondisi biologis tersebut perempuan dianggap sebagai pemegang peran utama dalam hal pengasuhan atau mengasuh anak. Selain itu dalam suatu keluarga perempuan dituntut melakukan tugas keibuan misalnya: memasak, membersikan rumah, mengatur kebutuhan keluarga, dan lain-lain. Hal-hal keibuan tersebut dipahami sebagai aspek utama dari identitas seorang perempuan. Jika ia (perempuan) tidak melakukan peran keibuan, budaya yang berlaku pada sebagian tempat atau daerah mengganggap mereka gagal sebagai perempuan karena tidak dalam melakasankannya. Perempuan dianggap sebagai mahkluk lemah dan tidak berdaya, hal ini terbukti pada kasus-kasus kekerasan yang korban-korbannya sebagian besar adalah perempuan contohnya KDRT, perempuan sebagi korban pemerkosaan, korban perdagangan perempuan (human trafficking), dan, prostitusi di rumah-rumah bordir.Dalam hal pekerjaan dan upah perempuan juga masih mendapatkan diskriminasi. Perempuan sering kali menjadi bawahan dan laki-laki menjadi atasan dan upah yang diterima oleh perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Situasi tersebut adalah bentuk budaya patriaki yaitu laki-laki sebagai makhluk yang superior dan yang berkuasa.Pada jaman dahulu perempuan dianggap tidak memerlukan pendidikan karena tugas mereka hanya mengurus kegiatan rumah tangga yang tidak membutuhkan keahlian khusus sehingga tidak perlu sekolah. Pendidikan tinggi hanya diberikan kepada kaum laki-laki untuk memimpin keluarga hingga suatu daerah.

Antara perempuan dan laki-laki memang memiliki perbedaan secara biologis akan tetapi perbedaan yang ada antara keduanya tidaklah digunakan sebagai alat untuk melakukan diskriminasi, menjadikan perempuan sebagai korban (kekerasan/ pelecehan) dan tidak memberikan kesempatan yang sama pada perempuan. Peran perempuan mengenai mengurus rumah tangga tidak hanya dibebankan kepada ibu seorang tapi ayah juga ikut serta. Perempuan juga layak diberi kesempatan yang sama seperti halnya laki-laki, misalnya: memperoleh pendidikan, kepemimpinan (menjadi menteri, presiden), dan gaji yang sesuai atas kerja yang dilakukan. Sebagai perempuan kita juga harus selalu memperjuangkan ketidakadilan yang terjadi, seperti yang dilakukan oleh Kartini dan pejuang-pejuang perempuan lainnya dalam memperjuangkan kesetaraan gender.

Jadi, kehidupan perempuan pada tiap budaya memiliki permasalahan yang beragam dan mereka juga memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengatasinya. Perempuan-perempuan tersebut mengalami permasalahan seputar kondisi tubuh/ badan (fisik), harapan-harapan mengenai keluarga perempuan memegang peran utama dalam pengasuhan, kekerasan, dan dianggap makhluk no2 setelah laki-laki atau lebih rendah.

Tiwied

🙂

2 thoughts on “Perempuan Lintas Budaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s